Monday, May 26, 2008

"terkejut besar"

"terkejut besar"

di

mitos pawana

KELAHIRAN BARU

KELAHIRAN BARU - usaha untuk memiliki kesedaran keakuan yang baru


"Meninggalkan rumah untuk menuju rumah ummat manusia,"

"Meninggalkan hidup untuk memperoleh cinta,"

"Meninggalkan keakuan untuk berserah diri kepada Allah,"

"Meninggalkan penghambaan untuk memperoleh kemerdekaan,"

Meninggalkan diskriminasi rasial untuk mencapai persamaan, ketulusan dan kebenaran,"

Meninggalkan pakaian untuk bertelanjang,"

"Meninggalkan hidup sehari-hari untuk memperoleh kehidupan yang abadi,"

"Meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri dan hidup tak berarah tujuan untuk menjalani kehidupan yang penuh bakti dan tanggungjawab,"

-Ali Shariati, Haji-






PINTU

PINTU




Saya akan terus kelelahan untuk mencari pintu yang satu itu, insyaAllah untuk dua minggu yang berikut. Dan saya akan senantiasa berpesan kepada diri saya bahawa kebenaran, adalah pintu masuk ke dalam dunia cahaya yang semakin sorot.


Bahawa malam hanya halusinasi, falsafah kaum yang terosak oleh sebab dirinya sendiri.


Atau siang yang memimpikan seluruh pesona nafsu, menggiurkan.



...


Anti-tesis mengenai karya arkitektur yang mempesona akan menjadikan saya sebahagian dari partikel alam melalui gabungan konsistensi, gerakan & disiplin yang akan membebaskan sumpah setia di batu hitam dan akan berada di Maqam Ibrahim untuk mengambil posisinya.

Menggerunkan, untuk mengenang kembali semua ini.
Dan untuk berada menyilang masa di antaranya...

...



Sebuah Syair dari Naser Khosrow

Dengan membawa kemuliaan jamaah haji telah kembali.Mereka bersyukur kepada Allah Yang Pengasih.

Di dalam perjalanan dari Arafat menuju Mekkah,
Dengan takzim mereka mengulangi ucapan “Labaika”

Ketika menghadapi kekerasan Padang Pasir Hijaz,
Mereka bersukaria karena selamat dari siksa dan api.

Mereka telah menunaikan haji dan telah menyelesaikan umrah.
Kini, dalam keadaan selamat mereka kembali ke tanah air.

Aku menyempatkan diri untuk menyambut kepulangan mereka,
Walau biasanya orang-orang yang seperti aku ini tidak berbuat demikian.

Tetapi salah seorang di antara para jamaah itu,
Adalah sahabatku yang sejati.

Kepadanya aku bertanya bagaimanakah ia telah menempuh
Perjalanan yang sangat sulit dan menakutkan itu.

Kepadanya kukabarkan, sejak kepergiannya meninggalkan aku sendiri,
Yang kurasakan adalah sesal dan duka-cita semata-mata.

Tetapi kini aku gembira karena engkau telah menunaikan ibadah haji,
Dan karena engkaulah satu-satunya haji di negeri kita ini.

Ceritakanlah kepadaku: Bagaimanakah engkau telah menunaikan haji?
Bagaimanakah engkau telah memuliakan Tanah Suci?

Setelah melepas pakaian dan hendak mengenakan ihram,
Di saat-saat hati menggelora itu apakah “niat” mu?

Telah engkau tinggalkankah setiap sesuatu yang harus engkau tinggalkan?
Telah engkau tinggalkankah setiap sesuatu yang lebih hina daripada Allah Yang Maha Besar?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Apakah ia telah menyerukan “Labaika”Dengan pengetahuan yang sempurna dan dengan penuh takzim?

Apakah ia telah mendengar seruan Allah?Atau, apakah ia telah patuh dengan kepatuhan Ibrahim?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika berada di Arafat,Ketika sedemikian hampir kepada Allah Yang Maha Besar,

Sempatkah ia berkenalan dengan Dia?
Tidakkah ia berhas.

Sempatkah ia berkenalan dengan Dia?
Tidakkah ia berhasrat untuk mempelajari sedikit pengetahuan?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika masuk ke dalam Ka’bah
Seperti yang telah dilakukan oleh keluarga “Kahf dan Raquim” .
Tidakkah dibuangnya sikap mementingkan diri sendiri?
Tidakkah ia takut hukuman akhirat nanti?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika menembak berhala-berhala,
Tidakkah ia memandang berhala-berhala itu sebagai syeitan?
Dan setelah itu tidakkah ia menghindari kejahatan?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika berkorban,
Untuk makanan orang-orang yang lapar dan anak-anak yatim,
Bukan Allah-kah yang pertama kali dipikirkannya?
Dan, setelah itu tidakkah ia membunuh ketamakan di dalam dirinya?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika berdiri di Maqam Ibrahim,
Apakah ia bersandar kepada Allah semata-mata
Dengan hati yang tulus dan keyakinan yang teguh?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika melakukan thawaf
Mengelilingi Ka’bah,
Tidak ingatlah ia bahwa semua malaikat
Senantiasa thawaf mengelilingi bumi?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Ketika melakukan Sa’y,
Ketika berlari-lari di antara Shafa dan Marwa,
Tidakkah ia menjadi suci dan bersih?

Tetapi jawabnya: Tidak!

Kepadanya aku bertanya:
Kini, setelah kembali dari Mekkah,
Dan rindu kepada Ka’bah,
Tidakkah akunya terkubur di sana?
Tidakkah ia berhasrat untuk pergi lagi?

Tetapi jawabnya: Tidak!

“Semua yang engkau pertanyakan ini
Tidak satupun yang kumengerti!”
Makanya kepadanya aku berkata:
Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!
Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!
Memang engkau telah pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Ka’bah!
Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kekerasan padang pasir!

Jika engkau berniat hendak melakukan ibadah haji sekali lagi,Berbuatlah seperti yang telah kuajarkan ini!

Sunday, May 25, 2008

terror win-nullius situation

TERROR win-NULLIUS SITUATION







"But tactically, the Singapore “foreign component” had a critical advantage in that Ian Brownlie is the Chairman of the UN International Law Commission, and Mr. Alain Pellet is a member and former Chairman of the UN International Law Commission. And Ian Brownlie is not just a brilliant Lawyer (Q.C.), he is also a lawyer who has a profound grasp of geo-political issues."

"My US$ Trillion dollar question is – Where was our Chief Justice when it was apparent that Singapore would be using all their “heavy” weapons?"

"I trust that you will now agree that Singapore was given “the mansion, while Malaysia was given some rocks which stand only 0.6 to 1.w2 m high”! In short, Malaysia was given crumbs to save face! But our current Foreign Minister says that it is a win-win situation."

"In a letter dated 21st September 1953, the Acting State Secretary replied that “the Johore Government did not claim ownership of Pedra Branca.”

"This case seems to rest on the same principles in which Israel was founded. The myth and propaganda [specifically by Golda Meir] for the creation of Israel in Palestine was that Palestine was a land without any people, and that the Jews were people without a land.Therefore, it was right and proper to take the land away from the Palestinians."

"Singapore do not have enough land for its people. It has attempted to reclaim land even on the island of Pulau Batu Puteh, besides the use of the strategic lighthouse. Singapore claims that Johor has no sovereignty over the island. Therefore, the island belongs to Singapore."

"This is Zionist fascist logic."

p/s:baca penuh di sini

Sunday, May 18, 2008

Cerita dari Teman

CERITA DARI TEMAN


Ada sebab untuk mengapa saya - mengagumi manusia yang seorang ini.

Dan bermula tika itu, Temasek telah ditalak tigakan dan berparak dari negeri Berhampar Emas Kuning, sungguhpun kedua-dua negeri dirintis oleh moyang yang sama yakni Parameswara.

Pawana berpuput lunak lewat petang itu, kelibat sekawan burung camar laut kelihatan bermain-main di muka gugusan batu dan terumbu. Hembusan asap nikotina dari paip John Kreamer berantaian memenuhi ruang peterana lawang di dalam jong milik Syarikat Hindia Timur Inggeris itu.

Abstrak pada idea, tegap pada tradisi, stamina dengan ilmu dan cergas untuk buku!

“Mengenai kebenaran daripada Sultan dan Temenggung negeri Berhampar Emas Kuning. Jikalau merujuk kepada Perjanjian Crawford di dekad lalu, gugusan batu-batu putih dan terumbu ini letaknya dalam lingkungan jajahan takluk Sultan Husain,” jelas Kapten James Horsburgh bersungguh-sungguh.

John Kreamer menyeringai dan kemudiannya menyimpulkan perbualan pada lewat petang itu.

“Jika begitu halnya, segeralah engkau karang satu surat perjanjian mohon kebenaran, bertinta emas putih. Errr, dan berlapik kain halija beroci sekayu. Utuskanlah secepat mungkin kepada Temenggung.”

Berwawasan, besar idea dan obses dengan wacana. Bukan mudah untuk mengenali seorang jurutera muda yang kuat memegang tradisi, sentiasa memegang buku, kritikal pada analitik malah aktif bersukan. Ahli sains yang sentiasa menghargai sastera besar, mula dengan bertatih tetapi mudah berlari. Penulis muda ini bukan calang orang. Semoga menjadi seorang pemikir besar suatu masa nanti!

Sudah lama saya memerhatikan sebatang pokok yang bertenggek di pulau batu dan terumbu itu. Dan penenggek itu sudah bertunjang sisi saya sejak awal tahun kurun yang lalu. Di sinilah juga saya sempat memahami ruang kesalingan dan erti simbiosis.

Benar. Sesungguhnya alam tabii banyak mengasuh makhluk agar hidup dalam kesalingan dengan pesaing. Bagaimana pokok sanggup mengizinkan burung camar laut bersarang di dahannya, menghantar makna simbiosis yang amat jelas kepada saya.

Pokok melindungi burung daripada dimangsai pemangsa dan memberi keselesaan pula kepada serangga yang menjadi santapan tembolok burung.

Memang dalam ruang kesalingan itu burung yang bersarang selalu mendapat manfaat, manakala pokok tidak pernah kerugian barang sekerat beras pun. Malah, pokok dengan unggas yang bertenggek di atas dahannya adalah lebih indah berbanding pokok yang berdiri sendiri tanpa makhluk lain.

Kerak-kerak kilatan peristiwa daripada alam tabii pada era ini acap kali berulang- ulang seperti ombak falsafi dalam ruang benak saya. Penenggek yang sanggup ditenggek memetaforakan satu pola kesalingan yang akrab sekali.

Namun, tenang-tenang air di laut, siapa tahu kuak tajam di dasarnya? Saya berasa amat duka pada tahun-tahun kebelakangan ini. Segelintir puak penenggek yang pongah telah mencantas mati lambang semiotik tabii itu.

Tidak mudah untuk mencari seorang teman yang candu berwacana, tinggi idealis dan gagah aroma tradisinya. Dari satu sisi yang lain, ahli sains tetapi sangat ketagih suasana sastera. Dan yang paling penting, gilakan buku. Benar, institusi tulisan itu akan membina manusia besar wawasan, tegas kritikal dan dahaga ilmu.

Apa lagi kalau bukan buku yang membina back up set fragmen mental seseorang individu?

p/s: baca penuh Cahaya Dari Batu, karya Zawan Baba yang tersiar di Mingguan Malaysia di sini.

Sunday, May 11, 2008

'basikal tua'

di 'mitos pawana'

Friday, May 09, 2008

Mewarisi kekalahan perang budaya?

MEWARISI KEKALAHAN PERANG BUDAYA?


Saya selalu terfikir, kemana perginya intelektualisme budaya kita hatta terkontang-kanting kita dibuatnya. Lihat saja bagaimana ahli parlimen kita bersidang. Aspek bahasa saja sudah memadamkan sisi intelektual mereka. Saya katakan sebahagian, tidak semuanya.

Kita hilang tulisan. Memang, suatu masa dahulu kita punyai tulisan Jawi. Tetapi kini khazanah budaya ini telah kita hantar ke zoo sejarah. Kerna bangsa kita miskin motivasi, perangai 'Tak Apa' yang membawa binasa itu kita amalkan.

Dan kini kita sedang berusaha menghilangkan bahasa kita sendiri. Proses menghantar bahasa Melayu ke zoo sejarah ini sedang rancak dijalankan. Mengaku atau tidak, bukan orang lain yang melakukannya. Bangsa kita sendiri. Pemimpin kita sendiri.

Mengapa kita gagal dalam perang budaya ini?

Salah satu cadangan jawapan saya, media massa tidak berfungsi dalam rangka tanggungjawab sosial mereka untuk membina minda masyarakat.

Lihat saja program yang dijalankan. Tidak cukup program realiti yang membabitkan undian esemes (budaya siapa?), rangkaian televisyen tidak segan keliling negara untuk sesi heboh pula. Sudahlah program rancangan di televisyen tidak membantu, mereka sanggup turun padang semata membina budaya baharu di kalangan rakyat.

Bukan niat untuk membanding, tetapi kalau Hadhari sangat bangsa kita ini, mengapa sampai begini sekali kekalahan kita kepada budaya Barat?

Dikhabarkan di Iran, Ali Sabur, 19 tahun diumumkan sebagai Profesor termuda di dunia oleh Guinnes Book of World Records, memecahkan rekod Isaac Newton. Tahun 2007 saja, 3 warga Iran disenaraikan sebagai 100 orang Genius oleh Firma Konsultan Creators Synertics iaitu Ali Javan, seorang Jurutera di nombor 12, ahli Fizik Nima Arkani-Hamed di nombor 32 dan ahli Biologi Pardis Sabeti di nombor 49.

Warga Iran yang terkenal dengan kebijaksanaan mereka telah membuktikan kemampuan mereka bersaing di peringkat global, walau dikenakan pelbagai tekanan dan sekatan ekonomi oleh warga Barat. Dan bangsa kita yang masih terkial mencari tempat di arena global - masih sibuk membincangkan isu halal atau haramkah Syiah.

Isunya kini, bagaimana seharusnya kita berdepan dengan terror budaya Barat aka Zionisme dan bersatu atas nama perpaduan untuk melawan mereka.

Atau kita selamanya akan berbahasa retorik, kata kita cintakan al-Aqsa, tetapi meninggalkan Syiah Hezbullah berseorangan memerangi Yahudi. Sunni apa kita ini?

Isu yang satu ini, bagaimana sebaiknya kita mengekalkan warisan yang ada, sistem bahasa terutamanya dalam usaha membina bangsa bertamadun dan cuba berlapang dada meninggalkan isu perbezaan untuk kemaslahatan penyelesaian isu yang lebih besar.

Imam Ali Khameini pernah menyatakan;
"Bentuk paling utama dan terpenting yang mewarnai gerakan perlawanan budaya menentang pemikiran politik Islam adalah upaya mati-matian untuk menggiring generasi muda ke lembah kerosakan dan kesia-siaan,"

Janganlah kerana perbezaan mazhab maka kita tolak pemikiran logis pemimpin spiritual Iran diatas. Mereka telah mengenalpasti bahaya perang budaya sejak dari zaman Revolusi Islam Iran 1979 lagi. Maka tidak salah kiranya kita belajar daripada mereka, kerna ahli intelektual kita sedikitpun tidak berminat akan isu ini.

Lihat saja bagaimana bangsa kita menyenangi budaya popular di negara ini, dengan pelbagai acara akademi ala fantasi. Ini, adalah awal korban budaya, sebagaimana tulisan dan bahasa kita yang telah terkorban.

Dan perlu diingat, kekalahan dalam perang budaya ini akan berlanjutan dari generasi ke generasi, malah seringkali membuaikan korbannya!





Thursday, May 01, 2008

Persoalan Palestina

Persoalan Palestina


Percaya atau tidak, Palestina adalah daerah isu yang sentiasa terkebelakang dalam tenaga perbincangan pihak Sunni. Mengapa tidak, sisi pemerhatian saya sentiasa terarah dengan lantangan suara Ahmadinejad, sentiasa mempersoal Holocaust, punca kebiadapan tersebut berulang, enam dekad sudahnya. Atau dengan stamina Nasrallah, jarang gagal secara teknikalnya berhadapan dengan rejim.

Ada sebab, mengapa titik koordinat berdarah ini senantiasa dimundurkan dalam mesyuarat berpuluh tahun lamanya. Bukan tiada solusi, tetapi kemahuan menuntut persefahaman jarang timbul. Harus tunduk pada tekanan.

Yang mampu berkuasa pula, duduk berdiam diri bersimpuh dengan gaya konon berdoa agar semuanya selamat. Mengapa, puak-puak ini gagal berfungsi dengan jelas dalam bidang kuasa mereka sendiri? Benar, ada usaha, pelbagai perjanjian dimeterai, namun mengapa sampai satu perjanjian pun gagal dikesan keberkesanannya?

Dimana, puak-puak yang memeterai perjanjian itu? Mengapa, sampai termundur kebelakang 50 tahun rakan kita yang tersepit di celah rantau Asia Barat itu?

Dalam rangka ini, usaha rakan kita - puak Syiah harus dirai. Dan kalau lebih berani, benarkan mereka bersama-sama kita mengubah dunia terbalik yang sedang kita harungi ini.

Tetapi, kalau kita masih sombong dan perasan kita mampu akan segalanya, nantikan saja kemusnahan satu persatu rakan kita. Memundurkan kembali rakan kita 50 tahun kebelakang harus ada saham kita sekali kerna fungsi ketidakpedulian yang kita sediakan.

Palestina adalah permulaan, titik lengkung pertemuan sudut pemikiran logis inter mazhab. Nah kalau doktrin fanatik mazhab mengaburkan sisi perjuangan major terhadap kelansungan agama, bagaimana harus kita berucap tentang misi menyelamatkan dunia? Bukankah peradaban yang dibina berteraskan agama dan kemajuan ilmu adalah suara intrinsik laungan kemandirian bangsa?

Bermula dengan Palestin, Afghanistan dan Iraq. Tunggu fasa selanjutnya kemusnahan yang kita sediakan oleh sebab ketidakpedulian kita itu.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Posts [Atom]